Menikah Itu Seni Mengenali Diri Sendiri dan Pasangan, Pertama Diri Sendiri

Banyak nasihat tentang pernikahan yang meminta seseorang sebelum menikah untuk benar-benar mengenali pasangan terlebih dahulu, tetapi masih jarang yang menyarankan untuk mengenali diri sendiri. Padahal, bagaimana seseorang bisa mengenali calon pasangan yang tepat untuk dirinya di saat dia tidak tahu pasangan seperti apa sih sebetulnya yang cocok dengan dia?

Mengenali diri sendiri

Mengenali diri sendiri sebetulnya adalah hal krusial yang harus dituntaskan terlebih dahulu, bahkan lebih baik jika jauh-jauh hari sebelum menikah. Mengapa? Sebab, semakin kamu mengenal diri sendiri, semakin mudah mendeteksi perubahan-perubahan yang terjadi pada diri sendiri, semakin sensitif dengan apa sih yang diri sendiri butuhkan, akan membuatmu mampu melakukan hal serupa kepada pasangan.

Bagaimana, sudah tahu, kan, seberapa pentingnya hal tersebut? Memang, pada akhirnya setelah menikah tetap ada sesi pengenalan baik terhadap pasangan atau mengenali diri sendiri lagi. Mengapa? Selain menumbuhkan rasa cinta dan memupuk rasa syukur, setiap manusia itu berubah, kamu tidak menyadari karena terus bersama dirimu sendiri sepanjang waktu.

Sedangkan perubahan pasangan sekecil apa pun bisa terdeteksi, jika tidak terus memperbarui ‘data pengenalan’ terhadap pasangan, maka bisa jadi akan timbul perdebatan yang tidak diinginkan. Sebab, ‘mengenal’ itu hanya sederhana di kata, tetapi lebih menantang ketika mempraktikkannya secara langsung.

Jadi, ayo kenali dirimu lebih dulu.

1. Kenali trauma masa kecil lebih dulu atau inner child yang terluka

Percaya atau tidak, apa yang manusia dapatkan sejak kecil akan terbawa sampai besar, oleh karena itu di dalam psikologi atau ilmu parenting, para orang tua diminta untuk memaksimalkan otak anak sejak dini. Lalu, pengasuhan di masa bayi dapat mempengaruhi seberapa secure-nya anak terhadap dunia. Terkait kemampuan meregulasi emosi, kematangan emosi anak juga bergantung erat dengan seberapa matang emosi orang tua.

Semakin orang tua sehat secara emosi, maksudnya mampu bicara baik-baik saat marah, tidak meledak-ledak, tidak membentak setiap marah tanpa mendengar penjelasan, menekan pendapat atau emosi yang dirasakan anak pada saat itu. Maka, emosi anak juga akan semakin rapuh, nanti ke depannya saat dewasa mereka akan mengulangi hal yang sama, yaitu ketidakmampuan meregulasi emosi mereka sendiri.

Contohnya saat kita sudah dewasa seperti sekarang ini, terkadang kita marah pada hal yang sebetulnya tidak perlu. Saat sudah selesai marahnya dan mengingat kembali apa yang terjadi tadi, sebetulnya bukan perkara yang terlalu serius kok.

Kenapa? Apakah kita orang jahat atau kita orang yang memiliki sifat buruk? Bisa jadi tidak, bisa jadi ada sesuatu yang dulu sewaktu kecil terjadi pada kita mirip seperti yang terjadi sekarang. Misalnya, saat orang lain berkata dia lelah dan ingin istirahat lebih dulu, kita merasa terabaikan, rasanya sakit di hati, kesal, dan marah.

Apa yang terjadi? Ada kemungkinan besar di waktu kecil kita mendapat pengabaian dari orang tua. Saat kita ingin mengobrol, mereka berkata lelah dan menyuruh main sendiri. Saat kita sedang sedih lalu menangis, mereka marah dan berkata hal itu membuat mereka semakin stres dan lelah. Kebutuhan inner child di masa itu adalah dipeluk, didengarkan, diregulasi emosinya, tetapi dia tidak mendapatkan hal tersebut.

Sehingga rasa sakit itu terpupuk dan terbawa sampai dewasa.

Hal ini bisa berakibat fatal pada kehidupan sehari-hari dalam berhubungan dengan orang lain. Maka mengenali diri sendiri, seperti apa trauma masa kecil, apakah ada inner child yang terluka dan terbawa sampai sekarang sangat penting. Semakin kamu menyadari itu, saat hal yang sama terjadi dan membuatmu marah, kamu mampu sadar bahwa ‘ini adalah inner child-ku yang terluka’.

Meski awalnya sulit untuk mengendalikannya, tetapi lambat laun akan terbiasa, hanya perlu membentuk kesadaran terus-menerus. Hal ini juga perlu dibicarakan dengan pasangan nantinya, akan lebih bagus juga jika keduanya mengutarakan tentang inner child mereka yang terluka dan terbawa sampai sekarang, lalu membahasnya.

Kemudian hal penting berikutnya adalah, supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama kepada anak. Mengingat betapa pentingnya hal ini, baik kamu atau pasangan nanti akan paham pentingnya sama-sama belajar parenting yang baik.

2. Mengenali kebutuhanmu lebih dulu

Sebelum menikah, alangkah lebih baik jika kamu sudah paham dengan cara apa nantinya dirimu merasa disayangi oleh orang lain. Cara komunikasi seperti apa yang tepat untukmu. Apakah kamu memerlukan banyak waktu jeda, sendiri, me time dengan diri sendiri, dan masih banyak lagi.

Mengapa penting? Jika tidak tahu, bisa jadi pasangan sudah memberikan segalanya untukmu, tetapi kamu tidak merasa disayangi, karena cara yang diinginkan berbeda. Bisa jadi pasangan sudah mengajakmu berkomunikasi, mengobrol, tetapi ternyata kamu tidak merasa begitu, karena cara yang diinginkan berbeda.

Apa yang sudah pasangan berikan bukan sesuatu yang bisa kamu sebut sebagai ‘cinta’, ini permasalahannya. Kalian berbeda, tetapi karena tidak tahu apa yang salah dari ini, jadi tidak akan bertemu dengan ujungnya. Terus merasa sedih, kesepian, tidak dicintai, dan berujung pada pernikahan yang tidak bahagia.

Misalnya saja pasangan lebih senang membuktikan cinta dengan tindakan, seperti membelikan sesuatu, membantumu melakukan sesuatu, menggantikanmu mencuci piring misalnya, tetapi bahasa cinta yang kamu butuhkan adalah ungkapan cinta dan pelukan. Jika pasangan sudah melakukan semuanya, tetapi belum memeluk dan mengungkapkan rasa cinta padamu, kamu jadi tidak merasa dicintai.

Sepertinya sepele, tetapi sangat penting.

Kesimpulan

Saat kamu tidak paham kebutuhanmu, kamu terus memaksakan diri setiap hari, merasa lelah, tetapi tidak tahu harus bagaimana. Padahal ternyata kamu hanya butuh jeda sejenak saja, ternyata stres yang dirasakan hanya bersumber dari kebutuhan me time yang sudah terlalu lama tidak terpenuhi.

Maka mengenali kebutuhan diri sendiri seperti ini adalah hal penting yang perlu dilakukan sebelum menikah, bahkan setelah menikah juga perlu terus mempelajarinya.

Mudah-mudahan setelah membaca artikel ini kamu jadi lebih mengerti, dan nantinya jika sudah memiliki pasangan akan lebih mudah dibicarakan karena sudah memahami diri sendiri.

Taaruf ID

Halo, Saya adalah penulis artikel dengan judul Menikah Itu Seni Mengenali Diri Sendiri dan Pasangan, Pertama Diri Sendiri yang dipublish pada August 21, 2022 di website Taaruf ID

Artikel Terkait